Sunday, February 17, 2013

Wisata Solo at Pasar gede


Diambil di sini




My holiday in this year so long. Akhir pecan kali ini aku berencana nonton pertunjukan barongsai di Taman Sriwedari di daerah solo, berkat ide itu aku mengajak sahabtku Riessa yang udah tau seluk beluk rute solo karena beberapa waktu yang lalu jalur di kota solo di rubah jadi musti hati-hati biar nggak kena tilang.
Aku berangkat pukul ±10.00WIB karena hari minggu pagi di Solo ada Car Free Day dari pukul 06.00-09.00. Tujuan utama adalah melihat atraksi barongsai di Sriwedari, tapi setelah sampai di sana tidak mencium adanya atraksi barongsai akhirnya mikir keras dan sempat berdebat sama sahabatku yang satu ini akhirnya kami memutuskan ke Pasar Gede yang terletak di depan kantor Balaikota Surakarta. Katanya sih di situ pusatnya perayaan imlek juga, aku menyerah dan menuruti melajukan motorku ke Pasar Gede.  
Kami memarkir kendaraan di depan pasar pas,parkiran di situ padahal lumayan mengganggu jalan sih soalnya hari itu jalanan padat merayap selain bertepatan dengan banyaknya orang yang beribadah di kelenteng dekat Pasar Gede juga ada acara pembagian angpao yang berpusat di Balaikota Surakarta. Selama ±17 th ini aku belum pernah sekalipun masuk ke pasar gede hanya sesekali melewatinya atau membeli obat tradisional di komplek dekat pasar gede. Moment kali ini kita memuaskan diri untuk menjelajah pasar gede. Mulai pintu utama kita sudah di tawari berbagai snack tradisional, lalu kami berjalan lurus mendapati “Dawet Telasih bu Haji Siwo” dan musti sabar ngantri lumayan panjang soalnya ada yg mbungkus sekitar 6 bungkus,dawet yang satu ini enak banget loh, beda rasanya sama dawet-dawet Es dawet telasih ala Pasar Gede ini memiliki racikan yang terdiri dari bahan-bahan seperti ketan hitam, bubur sumsum, dawet, telasih, diberi campuran santan lalu disiram dengan sirup yang berasal dari bahan gula cair ditambah dengan pecahan es batu. Untuk tambahan, Anda dapat meminta campuran tape ketan pada campuran es dawet telasih yang Anda pesan untuk menambah aroma sekaligus rasa.Dari segi harga, es dawet telasih di tempat ini dibandrol dengan harga yang lebih murah, yaitu Rp 3.000,00 per-mangkuknya untuk sajian es dawet telasih komplit dengan tape ketan. Dari segi rasa menurut saya kedua warung ini menyajikan es dawet telasih dengan rasa yang hampir sama, sama-sama enak ketika meluncur ke dalam mulut. 

Setelah itu kita keliling sebentar di pasar gede, ada penjual buah, daging, udah tersusun rapid eh dan nyaman menurutku tapi berhubung perut udah teriak-teriak minta di isi aku dan Riessa keluar dari Pasar Gede jalan kaki ke Mi Gajah Mas yang sangat mencolok dengan aksen Kuning  pamphlet, lokasinya tak jauh dari Pasar Gede lokasinya di antara Balaikota ke timur arah Pasar Gede, aku dan riessa memesan Mie ayam bakso pangsit porsi kecil alias ½ porsi soalnya kata Riessa

Monday, February 4, 2013

My Holiday

Liburan semester berlalu 3 pekan dan di isi dengan sosialisasi Universitas ke adik-adik SMA se-Sukoharjo kawan blogers, tapi sensasi capek, seneng, tawa, sedih jadi satu deh pulang kehujanan. Selain itu juga silaturahmi ke rumah Ester—sahabatku yang terpisah semenjak SMA—kangen banget rasanya, terus ke rumah Gina—lupa rumah dan ke sasar beberapa kali—di jemput di BRI mojolaban. Nah, untuk hari ini ada agenda ke rumah vani—anaknya rame plus kocak deh—di daerah Sukoharjo.

Ketok rumah, nggak ada yang jawab sampai beberapa kali akhirnya aku membuka pintu rumahnya sendiri—udah kayak keluarga sih (jangan ditiru)—nah, pas di buka vani udah nyembul di depan pintu kamarnya. Akhirnya aku di boyong ke kamar, dua gelas dengan satu teko berisi sirup manis di meja sisi tempat tidur, lalu beberapa toples berisi keripik pedas, wafer isi vanilla dan coklat. Ngobrol dari makanan yang kita makan pedasnya melebihi kripik setan sampai penyanyi favorit kita masing-masing(read: miley cyrus dan taylor swift). Cerita berlanjut sampai dia protes nggak di ajak ke rumah Gina maklum, jarang banget ke sana, seringnya ke rumahku karena lebih santai(read: aku jarang mau di ajak vani ke sana).

Setelah memasuki jam makan siang kami memutuskan untuk membeli makan di luar, meskipun belum menentukan tempat tetap saja roda motor itu bergulir kencang—kebiasaan. Akhirnya vani mengusulkan ke Hartono Life  Style Mall—Mall baru yang di bangun daerah Solo Baru—yang jaraknya tak jauh dari rumah vani. Memasuki parkiran di basement bagian bawah, menuju lantai satu dan memasuki satu demi satu pertokoan karena Mall baru jadi masih sangat sedikit yang menjajakan mulai pakaian sampai aksesoris. Oke, tujuan pertama yaitu “Makan Siang”, aku merengek ingin mencoba masakan Jepang  dan beruntunglah di sudut Mall—entah itu lantai berapa karena bingung—ada kios khusus masakan Jepang. 

Di ambang pintu seorang pelayan membukakan pintu—Resto Takigawa—dan kami di antar ke suatu tempat. Cukup nyaman sih tapi sayangnya lantunan music yang menyambar telinga kami justrul music eropa—mengurangi selera—tapi hal itu nggak mengganggu kenyamanan. Setelah mendebat menu makan siang karena aku nggak ngerti masakan Jepang yang terpampang di daftar menu—baru sekali sih—cara terbaik yaitu melihat gambar, aku memesan Energy Ramen dan Vani memesan Chicken Sizz serta dua soft drink sebagai minumnya. 

 Energy Ramen itu mie berkuah bening dengan sedikit rasa jahe dan irisan daging sapi, daging sapinya banyak loh teksturnya lebut dan di jamin kenyang–recommended J. Nyummy banget>>
Ambil di sini
IDR 49K

Ini Chicken Sizz. Chicken Sizzling Ramen itu mie berkuah

IDR 47K
Setelah selesai makan kami di suguhi bill yang cukup membelalakkan mata—kantong mahasiswa bayar sendiri—tapi itu menurutku sepadan sama rasa yang di suguhkan.  Akhirnya kami ke lantai dasar karena inget pesan umi di suruh membeli coklat—coklat batang untuk membuat kue berat 500gr—serta tepung.

Wednesday, January 30, 2013

Tetap Modis dengan Balutan Batik


Saya adalah seorang mahasiswi semester dua di salah satu Universitas terkemuka di Indonesia. Hari-hari saya disibukkan dengan berbagai hal, mulai dari kegiatan di kampus, masyarakat maupun teman-teman. Tidak dapat di pungkiri setiap kali saya bertemu dengan teman-teman pakaian yang mereka kenakanpun berbeda pula mengikuti perkembangan jaman, layaknya batik.
Batikmerupakan salah satu warisan budaya di Indonesia, macamnya juga banyak dan hampir di setiap daerah mempunyai ciri khasnya masing-masing. Kini batik tidak hanya di jumpai dalam bentuk jarik(selembar kain yang dililitkan di tubuh) saja tetapi sudah merambah berbagai hal seperti baju, rok, celana, dopet maupun aksesoris sebagai penunjang gaya hidup lainnya.
Saya mengenakan batik sejak TK, kemudian MI, SMP, SMA dan berlanjut sampai di bangku kuliah. Satu hari dari tujuh minggu itu instansi tersebut mewajibkan untuk mengenakan pakaian batik. Bahkan, ketika saya SMA sragam sekolah wajib berbatik itu mulai hari rabu-sabtu.
Saat kelas dua SMA, seorang guru kesenian mewajibkan kami untuk membuat sapu tangan motif batik. Hari itu, semua siswa di kelasku berkumpul di aula sekolah dengan membawa malam, kompor, wajan(penggorengan), canthing besar, canthing kecil, kain mori ukuran sapu tangan, pewarna dan pensil.
Langkah membuat batik tulis. Pertama, membuat motif dengan pensil di atas kain mori. Kedua, nyalakan kompor dengan nyala kecil dan taruh wajan di atasnya kemudian masukkan malam pada wajan hingga meleleh. Tiga, siapkan canting, pastikan tidak bocor dan ujungnya tidak tertutup. Empat, tunggu sampai malam mendidih. Lima, ambil malam dengan canting lalu goreskan malam di mori sebelumnya tiup dulu bagian ujung agar tidak tersumbat. Enam, jemur kain yang sudah di beri malam hingga kering, kemudian berikan warna pada motif batik dengan pewarna. Tujuh, kunci warna batik dengan cairan pengunci dan pastikan tidak bocor, agar warna tidak bercampur dengan yang lain. Delapan, rebus kain untuk meluruhkan malam lalu di jemur hingga kering. Nah, kesalahan yang biasa terjadi saat proses membatik adalah menyalakan api terlalu besar, malam tidak tembus sampai bawah lapisan sehingga ketika di berikan pewarna akan bercampur dengan pewarna di bagian lainnya, membatik dengan posisi canting tegak yang seharusnya agak miring.
Penjelasan mengenai proses membatik sudah sedikit saya jelaskan di atas, namun kebanyakan memilih untuk membeli batik jadi tanpa harus repot mebuatnya terlebihdahulu. Solo, khususnya di Pasar Klewer terkenal surganya untuk belanja dan para kolektor batik, apalagi kalau bisa menawar harganya pasti sangat murah. Selain Pasar Klewer, di Solo juga banyak toko batik, di Pusat Grosir Solo (PGS) harga yang di tawarkan pun tidak jauh berbeda mulai dari 15.000-150.000 untuk gamis. Nah, untuk kwalitas batik nomor wahid kita bisa membeli batik di butik batik, harga yang di tawarkan berkisar Rp 150.000-1.000.000 harga yang sepadan karena itu batik tulis asli. Bahkan, seiring perkembangan zaman penjualan batik online sudah mewabah di masyarakat, salah satu situs menyediakan serba-serbi berbau batik yaitu www.berbatik.com, mudah, cepat, dan menyesuaikan kantong kita masing-masing. Bagi yang hobbi online dan  terkesan nggak mau repot cenderung lebih memilih batik online. So, berbatik itu tetep bisa modis dan elegan kok, jadi jangan takut lagi memakai batik ya kawan.
Berikut ini adalah contoh batik hasil karya kakak tingkat sewaktu bangku SMA dan di patenkan sebagai seragam batik sekolah. WOW banget nggak sih?

(sumber: foto pribadi)
Ini dia hasil karya batik tulisku pertama. Kesalahan dalam membatik yaitu seringnya malam tidak tembus sampai bawah kain yang menyebabkan bercampurnya warna seperti karyaku di tahap belajar ini.>>
Sumber: Koleksi Pribadi


Detail bagian tengah

Keceriaan bersama teman-teman memakai batik